LINKS
01
Magazine of SMA Labschool Jakarta
Online Edition

School Hero bersama KapanLagi.com dan IM3

     Hari ini SMA Labschool Jakarta beruntung menjadi tujuan kegiatan goes to school dari KapanLagi.com dan IM3. Tema dari acara ini adalah “School Hero” yang berisikan tentang anti bullying. Sebelum acara dimulai, siswa registrasi terlebih dahulu, dan foto untuk kontes foto yang nantinya akan di-upload di twitter masing-masing dan yang beruntung akan mendapat pulsa dari Indosat masing-masing Rp 100.000 untuk 2 orang pemenang. Acara tersebut dimulai pukul 10.00 yang diawali oleh IM3 yang menjelaskan tentang aplikasi terbaru mereka yaitu tentang Augmented Reality, yang bisa digunakan pada aplikasi Android dan iOS. Lebih lanjutnya ada di www.planetmonstar.com.

     Dilanjutkan dengan pembicaraan tentang anti bullying dan akibat dari bullying terhadap korban bully. Pengertian dari bully adalah perlakuan kasar, merendahkan, dan menekan terhadap orang lain. Dan pembicara yang hadir adalah Citra dari KapanLagi.com dan Dimas Anggara.

     Menurut Dimas Anggara, perlakuan bully itu adalah perilaku yang tidak baik. Ia bercerita tentang sekolahnya yang saat itu masih ada masa dimana siswa-siswanya masih melakukan bully terhadap adik kelas dan bully-nya pun cukup parah. “Tapi setelah angkatan saya ke bawah, udah berkurang bully-nya. Karena di angkatan saya sendiri juga anak-anakny pada ga suka bully jadi semakin ke sini juga bully udah berkurang,” cerita Dimas. Ia juga bilang bahwa senioritas itu perlu untuk respect terhadap kakak kelas, namun kalau adik kelas sudah respect terhadap kakak kelas nggak perlu ada bully-bully segala. Kita harus menjaga hubungan baik dengan mereka, karena mungkin saja suatu hari nanti kita bisa bekerja sama dengan mereka.

     Citra juga say no to bully. Menurutnya, sekolah juga sangat bertanggung jawab terhadap bullying. Karena itu, sekolah harus memiliki sanksi yang tegas terhadap perlakuan bullying yang dilakukan oleh siswanya. Jika peraturan sekolah tidak tegas,  maka akan tetap banyak siswa yang mem-bully adik kelasnya, atau bahkan teman seangkatan sendiri. Sekolah tidak akan mungkin membiarkan aksi bullying terjadi pada murid-muridnya. Jika saja ada sekolah yang sanksinya tidak tegas atau mengabaikan tentang bully, maka pasti ada yang salah dengan sekolah tersebut.

     Presentasi dan sesi tanya jawab tentang bully pun diakhiri dengan peragaan aksi bully dari 4 siswa yang terdiri dari kelas 10 dan 11. KapanLagi.com juga memberikan beberapa goodie bag di sesi awal tadi. Dan acara School Hero bersama KapanLagi.com dan IM3 pun diakhiri dengan closing performance dari Barris, grup musik dimana Dimas Anggara menjadi vokalisnya. Barris menyanyikan 4 lagu untuk closing acara ini. Sebelum kembali ke kelas masing-masing, peserta yang mengikuti acara tadi diberikan sertifikat, namun tidak semua dapat karena jumlahnya tidak sebanyak peserta yang datang.

Profil guru: Bu Choi

              Guru yang akan tim Scholastic wawancarai kali ini adalah seorang guru yang baru mulai mengajar di SMA La

bschool Jakarta pada tahun ajaran 2011/2012 ini, beliau mengajar mata pelajaran biologi di kelas 10. Siapakah beliau? Beliau adalah Ibu Dwi Choirina atau yang biasa disapa Bu Choi. Silahkan disimak wawancaranya!

 Scholastic(Sch): Hai, Bu Choi! kami tim Scholastic akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk Ibu, boleh kan?

Nama Lengkap: Dwi Chorina

Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 28 April 1988

Motto: Keep moving forward!!

Bu Choi(Bc): Boleh dong.

Sch: Jadi kenapa Ibu memilih menjadi guru?

Bc: Awalnya sih tidak tertarik, saat SMA saya tidak ada niat an sama sekali untuk menjadi guru. Ternyata, ada hikmahnya sih. saat SNMPTN saya, agak tragis juga ya, saya menulis kode yang salah. Jadi, setelah lulus SNMPTN saya barulah sadar kalau yang saya pilih adalah jurusan pendidikan biologi yang nantinya saya akan menjadi guru.

Sch: Memang awalnya Ibu ingin menjadi apa?

Bc: Tadinya saya kalo nggak kesehatan masyarakat—fakultas kesehatan masyarakat—saya ingin jadi biologis. Jadi, harusnya pilihannya program studinya adalah biologi saja, tanpa ada pendidikan, karena kalau ada pendidikan berarti akhirannya akan menjadi guru, salah kode. Tapi tetap biologi sih. memang dari dulu saya suka biologi.

Sch: Lalu, kenapa Ibu memilih mengajar di Labschool?

Bc: Menyambung niatan saya tadi yang tidak mau menjadi guru ternyata akhirnya menjadi guru dan sekarang saya menjalaninya pun ternyata asik menjadi guru. Kenapa? Karena saya berinteraksi dengan murid-murid. Berinteraksi dengan yang namanya makhluk hidup, beda dengan orang yang bekerja di kantoran. Mereka berinteraksinya dengan benda mati, dengan komputer, data-data, proyek, dan lain sebagainya, tapi kalau saya menjadi guru, saya berinteraksinya dengan makhluk hidup. Saya bisa bersosialisasi, bisa mengetahui karakter murid-murid, dan setiap tahun itu berganti, ternyata itu sangat menarik sekali. Lalu kenapa saya memilih Labschool? Karena di Labschool ini selain akademik, kegiatan non akademiknya banyak. Dan lalu kita bisa belajar. Belajar ya sosialisasi tadi, belajar organisasi lagi, belajar manajemen. Karena disini banyak kegiatan-kegiatan yang  mengarahkan siswanya untuk lebih kreatif lagi, lebih bisa bersosialisasi lagi.

Sch: Menurut Ibu anak-anak Labschool gimana?

Bc: Anak-anak Labschool menurut pandangan saya, karena saya sudah disini mulai 2008 jadi PPL, menurut pengamatan saya dari awal saya disini sampai sekarang, sebenarnya  anak Labschool itu kreatif. Mereka kalau diadu kreatif itu kreatifitas mereka tinggi ya, sangat tinggi bahkan. Lalu angkatannya itu solid. Kesolidan setiap angkatan itu ada, dan itu kuat. Tapi untuk akademik, agak malas ya haha… perlu didorong dulu. Tapi sebenarnya bisa, mereka tuh bisa, hanya karena malasnya itu jadi kurang maksimal. Sebenanrny sih bisa lebih lagi dapatnya, tapi Karena malas, atau mungkin banyak kegiatan ya? Tapi kalau soal kreatif saya acungin jempol deh.

Sch: Harapan Ibu untuk murid-murid Labschool apa?

Bc: Harapan saya….. Mungkin kamu pernah baca kan ya mottonya Labschool; iman, ilmu, amal. Jadi ya harapan saya adalah iman, tetap beriman kepada Tuhannya, memgang teguh agamanya, kemudian berilmu, punya ilmu yang banyak. Setelah mereka berilmu, mereka terus beramal, mengamalkannya, membaginya kepada orang lain, tidak disimpan sendiri.

Sch: baiklah, terima kasih Bu Choi untuk waktunya. Sukses selalu menjadi guru di Labschool.

Bc: Iya sama-sama. Sukses selalu juga untuk nilai-nilainya.

Edit: Chocolatea

             Mungkin udah pada familiar sama band yang personilnya semua anak SMA Labschool Jakarta ini. Gendis dan Karina pada vokal, Banu pada Keyboard, Iman pada bass, Irfan pada gitar, Dhivo pada perkusi, dan Naufal pada Saxophone. Selain manggung di acara Labs Recital 2012 lalu, Band yang tergolong baru ini ternyata udah pernah dijadiin feature band sama pensi SMA lain lho! Penasaran gak sih sama awal band ini gimana? kita dengar liputannya yuk!

            Band yang mengaku bergenre urban pop ini awalnya tidak langsung punya 7personil kayak sekarang. Berawal dari Banu dan Gendis yang memang suka main musik bareng dan tampil di acara-acara SMA lain. Pada waktu itu, Gendis sebagai vokal dan Banu sebagai gitaris memang sudah mendapatkan sambutan dari banyak penonton karena keunikan mereka.

            Sementara itu, Iman, Naufal, dan Irfan sudah tertarik untuk latihan bareng di studio yang sama sejak mereka dipersatukan di kelas XD. Pada suatu hari Banu dan Gendis dapat tawaran bermain di acara pernikahan saudara Banu. Tapi Banu dan Gendis pikir gak rame kalau Cuma berdua, akhirnya diajaklah Iman, Naufal, dan Irfan untuk ngebantu mereka berdua. Karena mersa masih kurang, mereka mengajak Dhivo yang memang terkenal dengan skill perkusinya yang dewa untuk meramaikan acara pernikahan saudara Banu tersebut.

            “Setelah main di pernikahan Banu gw langsung pikir, ini dream band gw.” Ungkap Iman sambil menceritakan tentang perjalanan Chocolatea. Setelah itu chocolatea yang waktu itu belum diberi nama tidak lama-lama duduk berpangku tangan. Mereka langsung mengejar gigs-gigs yang ada, dan semua itu tidak terlepas dari jasa Derian. Yaitu anak SMA yang rela menjadi manager Choctea tanpa bayaran sepeserpun. “Derian itu bisa dibilang orang yang paling berjasa sama Chocolatea. Kalau gaada dia, mungkin kita gak bisa jadi siapa-siapa.” Ungkap Iman.

            Setelah itu, Karina yang saat itu sekelas dengan mayoritas personil Choctea di XD,bakat menyanyinya tidak sengaja terdengar personil-personil Chocolatea lain ketika ia sedang iseng-iseng nyanyi di kelas. Bergabunglah mereka menjadi 7orang dengan posisi yang sekarang.

            Chocolatea sendiri adalah nama yang spontan diusulkan oleh Irfan ketika mereka hendak mengikuti audisi gigs. “Kita belom punya nama band waktu itu, tau-tau di lembar formulir pas disuruh nulis nama band, kita bingung.” Tukas Iman.

            Walaupun belum mempunyai single sendiri. Chocolatea tetap berusaha untuk exist di dunia permusikan. Mereka sendiri pernah mencoba untuk audisi sebagai audition band di perhelatan musik terakbar se-Jakarta Java Jazz 2011. Walaupun mereka tidak mendapatkan gigs tersebut mereka cukup membuat juri terkejut dengan penampilan mereka. ”Penampilan kalian tidak seperti penampilan band yang baru jadi.” Ungkap Iman yang meniru gaya bicara juri tersebut. Tentunya hal tersebut membangkitkan semangat Chocolatea.

About The Cover: Scholastic 21

Di edisi 21 ini, kami mengangkat tema “Survival”
Survival di sini artinya macem-macem sebenarnya.
Tapi secara khusus sih kita ngebahas bagaimana
cara bertahan hidup di kehidupan SMA yang ganas
ini. Sebenernya sih tema ini timbul dari kegalauan
salah satu redaksi kita yang lagi kesusahan banget
bertahan di sekolah ini

Karena Tema kita kali ini survival,
Kali ini Scholastic membuat cover
tentang seorang pemuda yang sedang
memandang jauh ke depan setelah
berhari-hari berusaha mencari umat manusia
lain selain dirinya setelah bertahan dari bencana hebat yang menghantam bumi atau mungkin zombie apocalypse. Bajunya compang-camping melambangkan rintangan yang ia tempuh tidaklah mudah. Ilustrasi  yang dibuat oleh Nadhila Fitri dengan bahan dasar cat acrylic ini punya inti cerita survival, meskipun dapat ditafsirkan berbeda-beda.